Cerita Hikayat (Unsur Intrinsik-Ekstrinsik Hikayat dan Penjelasannya)

Beberapa hari yang lalu, kami sudah membahas materi tentang Cerita Hikayat (Pengertian, Jenis, Struktur, dan Ciri-ciri Kebahasaannya). Pada artikel kali ini, kita akan membahas unsur-unsur hikayat yang terbagi menjadi 2 (dua) unsur yaitu unsur intrinsik hikayat dan unsur ekstrinsik hikayat.

Pengertian hikayat adalah cerita rekaan pengarang dengan menggunakan media bahasa yang indah, menyuguhkan peristiwa atau kejadian yang kurang masuk akal direka seolah-olah pernah terjadi, sehingga timbul kontak komunikasi dengan pembacanya.

Unsur-Unsur Hikayat dan Penjelasannya

Cerita Hikayat (Unsur Intrinsik-Ekstrinsik Hikayat dan Penjelasannya)

Adapun unsur-unsur dalam hikayat terbagi menjadi dua unsur yaitu:

1. Unsur Intrinsik Hikayat

Pada dasarnya struktur hikayat itu sama dengan struktur novel, tetapi untuk dapat melihat karakteristik dari masing-masing struktur. Hal yang penting disoroti sekaitan dengan struktur hikayat atau unsur intrinsik hikayat adalah, tema, motif, penokohan, plot, latar, dan sudut pandang (point of view).

a) Tema dan Amanat

Tema adalah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra. Jenis tema terbagi dua yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah tema yang sangat menonjol dan menjadi persoalan. Sedangkan tema minor adalah tema yang tidak menonjol.

Pada dasarnya tema dan masalah yang ada dalam hikayat pada umumnya termasuk yang tradisional dan dalam kenyataan suatu tema dalam hikayat itu beragam bergantung pada kaca mata yang kita gunakan dalam melihat keberadaan tema itu sendiri misalnya:

  • Kejahatan awal, akhirnya-akhirnya akan dapat hukumannya.
  • Cinta terhadap tanah air lebih penting dari pada harta benda atau kedudukan.
  • Cinta akan mengatasi segala kesulitan.
  • Jika orang sudah kehilangan semua, baru teringat kembali pada Tuhan.

Amanat adalah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di dalam karya sastra. Amanat biasa disebut makna. Makna dibedakan menjadi makna niatan dan makna muatan.

Makna niatan adalah makna yang diniatkan oleh pengarang bagi karya sastra yang ditulisnya. Sedangkan makna muatan adalah makna yang termuat dalam karya sastra tersebut.

b) Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Pengertian tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra.

Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Ada beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung.

Menurut Robson, beberapa tokoh dalam hikayat tidak bernama, dan kelihatannya mereka jarang digambarkan: apa pentingnya gaya mereka. Karakterisasi atau penokohan tidak individual tetapi secara stereotip, dan terkadang disajikan secara posisi sosialnya.

c) Alur dan Pengaluran

Alur disebut juga plot, yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang padu bulat dan utuh.

Pengaluran yaitu teknik atau cara-cara menampilkan alur. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur erat dan alur longgar.

Alur erat ialah alur yang tidak memungkinkan adanya percabangan cerita. Alur longgar adalah alur yang memungkinkan adanya percabangan cerita. Alur lurus ialah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan dari awal sampai akhir cerita.

Alur tidak lurus ialah alur yang melukiskan tidak urut dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus bisa menggunakan gerak balik (backtracking), sorot balik (flashback), atau campuran keduanya.

Menurut Robson, bahwa hubungan dalam hikayat tidak bersifat sebab akibat. Alasannya, untuk menggunakan bahasa puitik, motivasi– tidaklah selalu harus diperuntukan bagi gaya atau aksi.

Jadi pada hakekatnya plot/alur dalam hikayat itu ada, tetapi antar bagian-bagiannya tidak memiliki hubungan sebab akibat, meskipun ada itu pun dianggap sebagai kebetulan, karena aksi dalam folklore tidak selalu diperuntukan untuk memancing gaya tertentu.

d) Latar dan Pelataran

Latar disebut juga setting, yaitu tempat atau waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya sastra. Latar atau setting dibedakan menjadi latar material dan sosial, sedangkan pelataran ialah teknik atau cara-cara menampilkan latar.

Menurut Baried dalam Pertiwi (2009, hlm. 56) menjumpai pula bahwa hikayat pun ada yang mengambil latar hutan, laut, pelabuhan, dan pantai. Kecuali lingkungan yang benar-benar nyata, dalam hikayat terdapat juga lingkungan di luar alam nyata.

e) Sudut Pandang Pengarang

Menurut Baried, pada hakekatnya metode penggambaran sudut pandang pengarang dalam ceritanya pada bahasan yang lalu bisa digunakan pula dalam melacak sudut pandang pengarang yang ada dalam hikayat.

Namun, demikian hikayat sebagai sebuah jenis sastra memiliki kekhasannya tersendiri. Hal ini seperti terlihat dari hasil penelitian Baried dkk, yang menyatakan bahwa seorang penulis hikayat seolah-olah mengetahui apa saja yang terjadi dalam cerita yang disampaikan.

Selanjutnya, Baried dkk. Sepakat dengan Poerwadarminta, bahwa penggolongan untuk sudut pandang yang demikian sebagai berikut:

Penulis bertindak sebagai dalang. Ia menceritakan barang apa yang ada dan terjadi di luar dirinya, peran ciptaannya diperlukan sebagai diri ketiga, di-Dia-kan dan di-Mereka-kan.

Dalam bercerita itu penulis seakan-akan serba tahu. Ia dapat menceritakan apa saja yang dibuat dan dikerjakan oleh pelaku-pelakunya. Bahkan sampai-sampai pada isi hatinya, batinnya, perasaannya, jalan pikirannya, rahasia-rahasiannya diketahuinya juga.

2. Unsur Ekstrinsik Hikayat

Keberadaan sastra lama atau sastra daerah yang terdapat di berbagai pelosok nusantara, tidak terlepas dari unsur-unsur masyarakat yang membangunnya, sehingga apa yang dihasilkan dalam karya sastra lama merupakan replika atau sebuah penggambaran dari keadaan masyarakat pada waktu itu, baik keadaan sosial, religi (keagamaan), maupun adat-istiadat.

Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom, tetapi selalu pasti berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembaca sastra, serta kejiwaan mereka.

Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar itu sendiri. Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik, diperlukan bantuan ilmu-ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi, filsafat, dan lan-lain.

Baca artikel terkait : Cerita Hikayat (Pengertian, Jenis, Struktur, dan Ciri-ciri Kebahasaannya)

Cukup sekian dulu ya sobat pembahasan tentang Cerita Hikayat (Unsur Intrinsik-Ekstrinsik Hikayat dan Penjelasannya). SevenNesia pamit dulu. Semoga semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda. Sekian dan terimakasih.

Referensi :
https://www.materibindo.com/2019/04/unsur-unsur-hikayat.html

3 Trackbacks / Pingbacks

  1. Cerita Hikayat (Pengertian, Jenis, Struktur, dan Ciri-ciri Kebahasaannya) – Materi Bhs Indon
  2. 9+ (Sembilan) Nilai Nilai Hikayat dan Pengertiannya – Materi Bhs Indon
  3. Cerita Hikayat (Pengertian, Jenis, Struktur, dan Ciri-ciri Kebahasaannya) - SevenNesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*