9+ (Sembilan) Nilai Nilai Hikayat dan Pengertiannya

Pada tulisan yang lalu kita sudah membahas Cerita Hikayat (Pengertian, Jenis, Struktur, dan Ciri-ciri Kebahasaannya), kali ini kita akan mempelajari sembilan nilai-nilai hikayat. Hikayat termasuk pada jenis sastra Melayu klasik merupakan cerminan masyarakat lama. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat adalah cerminan kondisi masyarakat lama saat itu.

Baca artikel terkait : Cerita Hikayat (Unsur Intrinsik-Ekstrinsik Hikayat dan Penjelasannya)

Berikut merupakan nilai-nilai hikayat dan pengertiannya:

Nilai-Nilai dalam Hikayat beserta Fungsinya

9 (Sembilan) Nilai Nilai Hikayat dan Pengertiannya

Sebutkan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat beserta fungsinya? Berikut penjelasan singkatnya.

1. Nilai Religius

Nilai religius adalah nilai kepercayaan terhadap Sang Maha Pencipta.

2. Nilai Sosial

Nilai sosial adalah nilai yang mencerminkan norma-norma berinteraksi terhadap sesama.

3. Nilai Budaya

Nilai budaya adalah nilai yang berkaitan dengan adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tertentu.

4. Nilai Pendidikan

Nilai pendidikan adalah nilai yang berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut kegiatan belajar mengajar baik di sekolah maupun di luar sekolah.

5. Nilai Kepahlawanan (Patriotik)

Nilai patriotik adalah nilai yang berkaitan dengan sikap yang berani, pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara.

6. Nilai Ekonomi

Nilai ekonomi adalah segala hal yang berhubungan dengan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya.

7. Nilai Politik

Nilai politik adalah nilai yang berkaitan dengan segala hal yang berhubungan dengan tujuan tertentu untuk meraih kemenangan pada diri seseorang dan berkaitan dengan usaha untuk mengatur kelangsungan hidup.

8. Nilai Moral

Nilai moral atau etika merupakan nilai yang berkaitan dengan baik buruknya suatu perbuatan yang berlaku dalam masyarakat.

Nurgiantoro menyatakan moral menyarankan pada pengertian (ajaran) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak, budi pekerti, susila.

Berdasarkan pendapat di atas, menyatakan nilai-nilai hikayat dalam hal ini moral sama dengan pengajaran perbuatan baik atau buruk yang di terima oleh khalayak umum seperti budi pekerti, kewajiban, akhlak, dan susila.

Nurgiantoro menyatakan moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan. Pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikan kepada pembaca.

Adapun moral dalam cerita biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil (dan ditafsirkan) lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca.

Ajaran moral merupakan petunjuk yang sengaja diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan seperti sikap, tingkah laku, dan sopan santun pergaulan.

Ajaran moral bersifat praktis, sebab dapat ditampilkan atau ditemukan dalam kehidupan nyata, sebagaimaan model yang ditampilkan dalam cerita itu lewat sikap dan tingkah laku tokoh-tokohnya.

Nurgiantoro membagi jenis-jenis moral dalam hikayat adalah sebagai berikut.

Moral pendidikan

Moral yang terkandung dalam kegiatan belajar pembelajaran didalamnya memiliki unsur edukasi (mendidik).

Moral budaya

Aspek ideal yang berwujud sebagai konsep abstrak hidup di dalam pikiran masyarakat mengenai kata yang harus dianggap penting dan berharga dalam hidup.

Moral Agama

Kehadiran unsur religius dan keagamaan dalam sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius. Religius dengan agama memang sangat berkaitan, berdampingan, bahkan dapat melebur dalam satu kesatuan, namun sebenarnya keduanya menyarankan pada makna yang berbeda.

Moral Sosial

Jenis moral sosial mencakup masalah yang bersifat tidak terbatas. Ajaran moral sosial dapat mencakup seluruh persoalan hidup dan kehidupan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia.

9. Nilai Estetis

Sudjiman menyatakan nilai estetis adalah emosi dan pikiran dalam hubungannya dengan keindahan dalam sastra, terlepas dari pertimbangan-pertimbangan moral, sosial, politik praktis, dan ekonomis.

Estetika berurusan dengan konsep-konsep tentang apa yang indah dan buruk, yang syahdu dan lucu yang sama sekali tidak ada urusan langsung dengan kegunaan atau morlitas.

Nilai estetika dalam sastra berkaitan dengan bahasa dalam seni sastra. Nurgiantoro menyatakan bahwa dalam sastra dapat disampaikan dengan cat dalam seni lukis, keduanya merupakan unsur bahan, alat, sarana, yang diolah untuk dijadikan sebuah karya yang mengandung “nilai lebih” daripada sekedar bahannya itu sendiri.

Disamping bersifat imajinatif dan fiktif, dalam bahasa sastra banyak mengandung konotatif dan makna kiasan. Oleh karena itu karya sastra mengandung nilai estetik yang tinggi.

10. Didaktis

Sudjiman menyatakan penggunaan karya sastra sebagai alat pengajaran atau pembinaan moral, keagamaan dan estetika. Jika maksud utama pengarang ialah menyampaikan pesan atau pengajaran, karyanya bersifat didaktis, jadi maksud utama pengaranglah yang menentukannya.

Namun Nurgiyantoro mengemukakan bahwa bentuk menyampaikan nilai pendidikan itu bersifat moral atau budaya, ada bentuknya, langsung atau tidak langsung. Dalam hal ini hikayat termasuk folklore sastra klasik yang bentuk penyampaian pesannya hendak disampaikan pembaca.

Itulah tadi sepuluh macam nilai-nilai dalam hikayat. Disarankan bagi kamu untuk mempelajari juga unsur-unsur hikayat di bawah ini.

Baca artikel terkait : Cerita Hikayat (Unsur Intrinsik-Ekstrinsik Hikayat dan Penjelasannya)

Oke, sekian dulu ya untuk artikel kali ini tentang 9+ (Sembilan) Nilai Nilai Hikayat dan Pengertiannya. Semoga bermanfaat bagi Anda. Terima kasih atas kunjungannya, dan semoga lain kali dapat berkunjung ke website ini lagi 🙂

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*